Cerita Dewasa – Aku Terjerumus Sex Lesbian

45607 views

Cerita Dewasa – Aku Terjerumus Sex Lesbian | Aku terbangun dengan tubuh yang penuh peluh dan rasa tak karuan, ingatan masa laluku bermain dalam mimpi. Tubuhku yang basah oleh keringat yang keluar bercucuran , kulirik jam meja yang berada di sebelahku, pukul 4 pagi diluar sana langit masih begitu gelapnya, aku menuju kamar mandi ruang kamar kostku, melirik bayanganku yang terpantul dari cermin di depanku saat itu.

Cerita Dewasa - Aku Terjerumus Sex Lesbian Cerita Dewasa - Aku Terjerumus Sex Lesbian Cerita Dewasa - Aku Terjerumus Sex Lesbian 111 1

Cerita Dewasa – Aku Terjerumus Sex Lesbian

Cerita Dewasa – Aku Terjerumus Sex Lesbian | Aku membasuh wajahku dengan air dari kran wastafel yang pada saat itu kurasakan dingi dalan kucuran air yang mengalir, aku memandangi pantulan diriku di cermin itu dalam-dalam, tubuh ku yang hanya terbalut kaus basket tanpa bra didalamnya, lekukan buah dadaku yang tergantung indah disana dengan sebuah tattoo tulisan di belahan kanan dadaku.

Cerita Dewasa – Aku Terjerumus Sex Lesbian | Aku tersenyum melihat betapa cantiknya diriku ini, mata yang bulat indah, bulu mata yang lentik, bibir yang merekah sensual, dan tubuh yang begitu indahnya, aku memiliki semua yang diinginkan oleh wanita lain, tapi aku tidak seberuntung mereka, setidaknya aku tidak pernah merasakan cinta seperti mereka yang alami.
Aku lelah dengan semua Laki laki yang mendekatiku, lelah dengan semua bualan dan omong kosong yang mereka perbuat padaku, lelah dengan semua kata-kata gombal mereka. errick ya errick yang membuatku membenci semua ini dial ah Laki laki pertama yang aku benci, ditambah lagi apa yang Ressa lakukan padaku, semua menambah rasa mualku pada sosok Laki laki.

Cerita Dewasa – Aku Terjerumus Sex Lesbian | Bagiku sekarang mereka hanyalah sekumpulan pecundang yang harus kumanfaatkan sebisaku, sebelum kemudian aku membuang mereka, seperti bagaimana Errick membuangku waktu dulu.
Errick .. Errick dan sosok itu yang akan terus menghantuiku, seseorang yang begitu mudahnya menghempaskanku begitu saja , tak pernah perduli bagaimana aku memintanya untuk kembali, memintanya untuk tetap memeluk-ku erat disampingku menemaniku setiap waktu.

Aku menangis tanpa sadar aku merasakan bagaimana dia memeluk-ku lagi, aku merasakan kehadirannya sekarang disini, merasakan bagaimana dia merangkulku di ruangan ini dulu, memeluk-ku menciumku, membawaku naik ke atas kasurku, sentuhan tangannya, sentuhan bibirnya di bibirku. Ah aku yang selama ini begitu membencinya …….

apakah aku hanya seseorang yang berpura-pura membencinya apa benci ini gara gara perbuatanya?

Aku merengut rambutku sendiri sekarang, sebelum kembali membasuh wajahku dengan air.. aku berjalan gontai menuju ranjangku yang begitu empuk ini, ranjang yang merengut segala kehormatanku atas apa namanya cinta.

Aku masih teringat saat aku melakukannya, rasa sakit itu, namun penuh keharuan sebuah rasa yang sulit diucapkan hanya sebuah kebahagiaan saat memberikannya pada orang yang begitu aku sayangi saat itu, cinta pertama-ku, seseorang yang menundukkan segala egoku, membuatku berhenti memainkan perasaan seorang lelaki, tapi juga seseorang yang membuatku lebih jahat lagi nantinya.

Pelukannya saat menyentuhku, kata-kata manis yang pernah diucapnya memanjakan hatiku, ciumannya saat menghentikan air mata yang mengalir dari pelupuk mataku saat itu, kata-kata manisnya yang meredakan semua rasa bersalah dan penyesalanku.

Aku menarik selimut, mimpi buruk tadi membawaku tenggelam hingga ke titik ini yang terdalam..
Mataku melirik, tak ada yang dapat kupastikan dari guratan abstrak langit-langit kamarku, pikiranku yang melayang terbang menuju masa lalu yang begitu memberikan rasa trauma untuk-ku, hanya sebuah getaran dari ponselku yang membawaku kembali, aku melirik kearah ponselku mengambilnya dengan tanganku dan melihat sebuah miscall tercetak dilayarnya hanphoneku.

Rikka.. kenapa dia menghubungiku sepagi ini? si polos itu pasti tengah bimbang saat ini, dia tidak siap seperti yang aku katakan, semua lelaki itu berengsek apalagi jenis seperti Aldo Andre itu, buatnya semua wanita itu hanya mainan untuk mereka, dan untuk melindungi diri kita dari lelaki semacam itu, adalah memperlakukan mereka sama seperti mereka memperlakukan kita.

Dan mungkin seperti yang pernah aku katakan, saat ini pasti Ardi telah mencampakkannya.
Aku mematikan lampu tidurku, menarik selimutku hanya berharap agar Rikka bersabar hingga aku datang besok, aku harus merebutnya kembali dari tangan bajingan itu.

Aku berdiri di depan pintu rumahnya sekarang, Rikka si gadis polos yang begitu lugunya saat kami pertama kali bertemu dengan beliau,

saat dia dengan kacamata tebalnya mendaftar di universitas ini, dengan lugunya dia bercerita banyak hal tentang keluarganya, bercerita banyak hal tentang dirinya, tentang rasa trauma nya dengan sosok lelaki yang pernah ditemuinya,

Kata-kata yang menyadarkan bahwa kami berdua sama, memiliki rasa trauma yang begitu besar pada sosok seorang lelaki.

Aku mengetuk pintu rumahnya, suara manjanya itu terdengar dari dalam rumah..

“ Sebentar..siapa yaaaaaa “
Perlahan pintu itu terbuka, aku melihatnya berdiri di depanku.. wajah lugunya yang sama seperti dulu, hanya sekarang telah menjelma menjadi begitu cantik dan rupawan bah artis ibukota, dia sangat cantik aku tahu itu dari pertama kali kami bertemu, senyumannya begitu suci, dan garis matanya yang menunjukan kepolosan, hanya memerlukan beberapa polesan untuk berkembang dengan sempurna.

“ Ci Lina.. “ Katanya seolah tak percaya melihatku.

Aku tersenyum menatapnya, dan langsung memeluknya melepaskan semua kerinduanku karena lama tak bertemu tentang dirinya.

Dia pun memeluk-ku begitu erat sekali.

“ Masuk ci.. “ Ajaknya menarik tanganku, sementara kulihat dia berjalan pincang dengan tongkat penyangga di tanganya..

“ Kamu kenapa Rik, ? “ tanyaku panik langsung memapahnya kearah kursi yang tak jauh dari ruangan tersebut

“ Eh iya gpp kok ci, aku jatuh.. “ jawabnya, lirik matanya seperti ini bercerita lebih banyak, aku tahu harus perlahan menghadapinya seperti dulu, sebelum dengan polosnya dia akan bercerita.

“ Kamu kenapa sayang, kok bisa begini sih siapa yang berbuat begitu jahat kepadamu..

“ aku melihat kakinya yang ternyata masih di balut perban baru,

“ Kemana Ardi ?? kok ga temenin kamu ? “ lanjutku serontak menanyainya..

“ Hmm, ada kok ci, dia lagi ke rumah sakit.. “ , “ Maaf ya ci, bisa tolong ambilin salep aku ga ? “ pintanya

“ Ke rumah sakit ? “,” kalian kecelakaan ??

“ tanyaku lagi lebih kawatir sambil mengambilkan salep untuknya di lemari dekat meja makan.

“ Kenapa dia ga jagain kamu sih ? “ gerutuku

“ Hmm.. gapapa kok ci. Kemarin aku jatuh aja ..

“ Dia tersenyum, dengan wajah polosnya sangat mudah untuk tahu kalau Rikka sedang
membohongiku sekarang aku tidak langsung percaya begitu saja….pasti ada yang tidak beres di bailk ini semua.

“ Yawda sini, biar aku aja yang olesin ya..sayang

“ aku menunduk membantu mengoleskan salep itu untuk Rikka,

“ Ga ada yang patah kan sayang ?? “ tanyaku lagi kepadanya

“ Ga kok, cuma keseleo biasa aja Ci..

“ Dia tersenyum, sedikit menggigit bibirnya saat aku mengusap lembut kakinya, mungkin menahan rasa sakit padahal aku sudah berusaha selembut mungkin untuk menyentuhnya, sepertinya cederanya cukup parah.

“ Kamu tuh aneh-aneh aja.. kok bisa sih.. “ kataku setelah selesai mencuci tanganku..

“ Tiduran aja dech di kamar ya..sayang ….

“ aku khawatir melihatnya yang memaksakan diri untuk duduk diatas kursi, dari wajahnya yang terlihat kurang nyaman dalam posisi itu, perlahan aku memapahnya untuk berjalan masuk ke dalam kamarnya.

Membantunya berdiri sambil menuntunnya berjalan selangkah demi selangkah, membukakan pintu kamarnya dan membantunya merebahkan diri di atas ranjang.

“ Maaf ya ci, aku jadi ngerepotin kamu ini..

“ aku memperhatikan bagaimana dia tidak memanggil sayang padaku dengan manja sepertiku, dia seolah berusaha menghindari kata itu, terlihat dari bibirnya yang bergerak sesekali menahan mulutnya berucap kata itu.

“ Kemarin kenapa kamu nelepon pagi-pagi.. miscall aja malah kok kagak telpon sekalian sayang.. “ tanyaku sambil mengupas jeruk kesukaanya yang aku bawa tadi.

“ Ahhh.. iya ci.. maaf yaaaaaa.. aku takut ganggu kamu.. “ katanya menunduk sambil memanyunkan bibirnya manja.

“ Dasar kamu tuh sayang.. sini aaaaa dulu.. “ kataku menyuapi jeruk itu untuknya, dia langsung membuka mulutnya dan mengunyahnya dengan begitu manja.

“ Kamu lain kali, kalau mau telepon ya telepon aja.. kayak ma siapa aja dech.. “

“ Ya abis dah pagi banget kan ci.. “, “ aku ga enak.. “ lanjutnya lagi sambil membuka mulutnya lagi manja.

Aku menyuapi satu jeruk lagi untuknya, sementara aku kembali memancingnya untuk berbicara banyak.

“ Aku belum tidur sayang, dasar kamu tuh.. kenapa kamu lagi banyak pikiran yaaaaaa ?

“ tanyaku kepada rikka

“ Ah enggak kok,

“ dia melirik,engkan kepalanya beberapa kali.,

“ Ga papa cuma kangen aja sama kamu hheeeee..

“ dia tersenyum bohong…aku merasakan itu

“ Kamu tuh.. kan aku dah bilang.. kamu tuh ga bisa bohong tau ga……

“ Sini cerita.. apa aku tebak aja say ? “ aku tersenyum mengodanya

“ ahhhh.. beneran ci.. ga ada apa-apa.. “ ucapnya panic saat kutanyain terus menerus.

“ Yawda.. yawda.. “ Aku menyuapinya sepotong jeruk lagi ke mulutnya

“ Ardi sering pergi malam ? “ tanyaku memancing kepadanya..

“ Enggak kok.. ga pernah malah kayanya, kalau pergi pasti jemput aku……

“ Jawabnya sambil melirik,engkan kepala.

“ Hmm.. Ardi baik kan sama kamu ? “ tanyaku lagi.

“ Iya dia baik, perhatian meski emank agak cuek banget orang.. tapi dia romantic ci.. cici tau kan aku paling suka hal-hal yang romantic gitu.. “ dia mulai bersemangat, dan aku tahu si polos ini hanya perlu sedikit pancingan sebelum kemudian akan bercerita lebih banyak hal lagi padaku.

“ Oh gitu ya.. cerita donk.. kamu aja ga pernah cerita waktu dia nembak kamu gimana.. “ pancingku ketus kepada dirinya

“ Oh itu, aku sebenernya pengen cerita dari lama, cuma waktu itu cici dah marah sama aku.. maafin aku ya ci. Ga pernah jujur tentang perasaan aku ke Ardi selama ini.. “ , dia terputus menatap mataku, wajahnya dipenuhi rasa bersalah ..

Aku tersenyum menjawab tatapan matanya itu, “ Gapapa kok sayang, maaf ya aku juga marah waktu itu “ aku mencium kening Rikka dengan penuh perasaan.

“ Iya ci, mau denger cerita aku ga ?? “ jawabnya bersemangat.

“ Jadi cici tau ga gimana dia nembak aku, dia pura-pura tabrakan, bikin aku panik dan akhirnya di rumah sakit dia berdiri dan nembak aku, gimana coba perasaan aku, disitu aku sadar kalau aku sayang sama dia.. “

“ Dan itu juga yang membuat aku mengiyakan permintaan dia untuk jadi pacarnya.. maafin aku ya ci, aku ga minta izin dulu sama cici..

“ Jelasnya.Aku menganguk mengiyakan

Dalam situasi itu, gadis mana yang tidak dalam euphoria merasakan betapa dia mencintai seseorang laki laki, pintar memang, dan jelas Ardi adalah seseorang yang pandai dalam mempermainkan hati wanita, dan aku harus melindungi Rikka dari dirinya sekarang.

“ Wajar kok Rik,.. kamu tuh.. jangan minta maaf terus.. nah cerita lagi donk.. “ pintaku.

“ Hmm.. cerita apa lagi ya ci.. “ wajahnya berfikir apa yang ingin diceritakannya.

“ Kamu tahu soal Siska ? “ Pancingku kepadanya

“ Siska… “ Dia berfikir sesaat sebelum tersenyum.. “ Iya ci aku tahu soal Siska, dia mantan Ardi.. gag nyangka ya pacar aku itu pernah pacaran sama artis idolaku.. tapi..

“ bibirnya bergerak lucu seperti tengah berfikir.

“ Dia ngeduain kamu sayang ? “ tanyaku sedikit straight to the point bilang kepada rikka.

“ Enggak enggak ci.. “ Dia terlihat panik, “ Ga gitu ci, justru meski pertama dia nutupin, tapi dia punya alasan, katanya dia takut aku minder.. hmm bener sih siapa yang ga takut kalau dibandingin sama Siska kan.. “

“ Rikka Rikka.. kamu tuh polos banget sih.. “ aku tertawa mendengar kepolosannya waktu itu…

“ Kamu tuh lebih cantik daripada Siska, mana mungkin coba Ardi milih Siska di banding kamu..

“ Ich.. cici sih Rik,ledekin aku.. hufttt “ Ucapnya manja sambil mengembungkan pipinya lucu dan temben itu.

“ Udah ah, jelek begitu.. ayo lanjutin lagi ceritanya.. “ pintaku mendengarkan dengan seksama..

“ Iya, jadi intinya.. Ardi dengan tegas milih aku.. malah ci Siska yang bilang ke orang tua Ardi, kalau aku pacar Ardi sekarang..

“ dia tertahan sesaat seperti ragu-ragu dengan ceritanya..

“ Jadi orang tua Ardi merestui hubungan Siska sama Ardi ya ? “ aku berinisiatif bertanya
Rikka mengangguk menjawab pertanyaanku itu

“ Hmm.. susah juga ya.. jadi kamu ada masalah sama orang tua Ardi ? “ tanyaku lagi

Dia terdiam sesaat sebelum kemudian menjawabnya dengan mengangkat bahunya tinggi-tinggi

“ Yawda gapapa.. emank sih agak susah ya, kalau keluarga sudah mulai ikut campur…..

“ Mama Ardi ngomong sesuatu ke kamu kagak ?? “ Tanyaku asal menebak….

Rikka terdiam.. dia diam beberapa saat kemudian.. seperti ragu untuk bercerita kepadaku.

Aku tersenyum tak mau memaksanya, Rikka bukan tipe orang yang bisa dipaksa bicara .

“ Hmmm.. jangan cerita ke siapa-siapa lagi ya ci.. “ Dia menjawab dengan suara yang begitu lemah.
Aku mengangguk memeluknya, sepertinya dia memiliki beban yang begitu berat untuk perjalanan sebuah cintanya.

Aku duduk disampingnya lebih rapat, mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh orangtua Ardi, atau lebih tepatnya,

Tante Hilda mama Ardi saat berada di rumah sakit, perkataannya lembut namun memberikan beban yang begitu berat untuk Rikka tampaknya, tidak mudah untuknya, pertama kali memiliki pacar dan harus dihadapkan dalam situasi seperti ini.

Aku memeluknya, melihat Rikka yang berusaha menahan tangisan, tidak ada kata kasar, tidak ada juga kata-kata marah dari ucapan tante Hilda, namun memberikan sebuah beban yang begitu berat untuk Rikka, dia terlalu jujur, terlalu baik untuk bertingkah munafik sesuai permintaan tante Hilda.

Mungkin dia bisa dengan mudah mengatakan Ya, bukan tidak menjawab pertanyaan tante Hilda, namun si lugu ini memilih untuk menjawab dengan seluruh hatinya, menjawab jujur pertanyaan itu dengan sebuah permintaan lain untuk memberikan waktu untuknya berfikir.

Padahal dia bisa dengan mudah menjawab ‘ya’ dan kemudian melimpahkan semua masalah pada Ardi bila segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan olehnya.

“ Kamu tahu ?? “ Tanyaku

Dia menggeleng, membenamkan wajahnya di dadaku.

“ Mungkin jalan kamu akan sama terjalnya dengan orang tua kamu sayang…….

“ aku melirik,utarakan pendapat jujur bukan berusaha mempengaruhi Rikka dengan kata-kataku.
Dia mengangguk sepertinya dia sadar dengan apa yang mungkin akan terjadi,

Aku menatap wajahnya setelah melepas pelukanku itu,

“ Jangan nangis ya sayang..jangan bersedih sayang “ aku menyeka sebulir air matanya yang menetes di pipinya……..Dia berusaha tersenyum..

“ Kamu tahu, seperti yang aku bilang, seorang wanita harus bisa melindungi dirinya, hampir semua cowo itu berengsek, dan permintaan itu tentu sangat memberatkan buat kamu, tapi kamu juga harus sadar sayang, ada aku,.

Ada aku yang akan selalu sayang sama kamu………

“ aku mengucap itu dengan tulus…..Rasa cintaku pada Rikka masih begitu kuat.

Rikka menganguk menatap mataku, dan lagi aku memeluknya dengan begitu erat.

“ Saat semuanya terlalu berat buat kamu, kamu bisa melepaskan Ardi dan kembali ke aku ya sayang……

“ Aku membisik.. Rikka diam tak menjawab, sebelum dengan berat dia mengangguk..

Aku tersenyum melihat anggukannya itu, sebuah jawaban yang tak aku duga sebelumnya, dia lemah seperti gelas kaca yang bisa hancur kapanpun dengan tekanan dari luar dan dalamnya.

Dan aku yakin tak ada seorang Laki laki pun yang bisa memahaminya lebih dari aku, tidak juga Aldo yang sekarang entah dimana……bagai hantu yang datang dan hilang begitu saja.

Kutatap dalam-dalam wajah Rikka, menatap matanya yang begitu cantik, kudekatkan bibirku di mulutnya, perlahan menyentuh bibirnya dan melumatnya begitu lembut dengan perasaan penuh nafsu aku memainkan lidahku, dia tak membalas ciumanku, namun aku memancingnya lagi dengan sentuhan lidahku membasahi bibirnya.. berusaha menusuk masuk dalam bibirnya itu, perlahan bibirnya membuka dengan sendirinya..

Membuka membiarkan lidahku mulai masuk dalam mulutnya, mencium bibirnya dengan lebih mesra lagi, berkali aku terus mencoba menciumnya dengan lebih mesra lagi, beberapa menit aku mencoba lagi dan lagi, hingga akhirnya aku dapat meruntuhkan dirinya, perlahan lidahnya menyambut bibirku.

Menari dalam ciuman yang begitu hangat kurasakan pada saat itu, bibir kami yang basah bertemu dan saling berciuman dengan mesra, ciuman yang telah begitu lama hilang dari hidupku entah beberapa lama hilangya. Aku mendesis merasakan sentuhan bibirnya itu. 

Tak percaya aku akan merasakan lagi ciuman dari orang yang begitu aku sayangi ini saat ini.
Sayang itu tak bertahan lama……

Suara deheman seseorang menghentikan kami, di depan pintu kamar itu berdiri seorang lelaki,.

“ Sory, ada apa ya ? “ tanyanya tegas…….

Aku hanya tersenyum, sambil membelai lembut rambut Rikka..

“ Aku pulang dulu ya.. “ Jawabku, sambil mengambil tasku dan berjalan melewati Ardi yang masih berdiri di depan pintu kamar.

“ Sory ya, kalau udah ganggu.. “ kataku sengaja memancing..

Dia tak menjawab, sepertinya menangkap apa arti dari kalimat yang telah kukatakan itu .
Sebelum aku berjalan keluar, dan pergi berpamitan dari rumah itu membiarkan Rikka dan Ardi menyelesaikan masalahnya sekarang. Sekian

Tinggalkan pesan "Cerita Dewasa – Aku Terjerumus Sex Lesbian"

Penulis: 
    author
    No related post!